in

Hal ini Hukum Mengucapkan Selamat Natal Bagi Umat Muslim

Hal ini Hukum Mengucapkan Selamat Natal Bagi Umat Muslim

Jakarta, CNBC Indonesia – Menjelang akhir bulan Desember, umat Kristiani dan juga Katolik di area seluruh Indonesia akan merayakan Natal lalu Tahun Baru. Lantas, bagaimana hukum ucapan Natal dari orang muslim?
Pertanyaan terkait hukum mengucapkan selamat Natal ini memang sebenarnya terus-menerus dipertanyakan. Khususnya pada kalangan umat Islam sendiri.

Hal ini terjadi sebab adanya perbedaan pandangan dari sebagian orang. Begitupun para di tempat kalangan para ulama, ada yang digunakan membolehkan lalu ada yang dimaksud mengharamkannya.

Untuk lebih besar jelasnya, berikut penjelasannya.

Hukum Mengucapkan Natal di Islam

Seperti disebutkan di tempat atas, terdapat perbedaan pendapat terkait hukum mengucapkan Natal dalam di Islam. Ada yang digunakan memperbolehkan serta ada pula yang digunakan tidaklah memperbolehkan hal tersebut.

Salah satu ulama yang tersebut memperbolehkan memberikan ucapan Natal terhadap umat Kristiani adalah Husein Ja’far Al Haddar. Dalam sebuah unggahan video pada YouTube SALAAM Indonesia, ia menjelaskan beberapa landasan kebolehan mengucapkan Natal bagi soerang muslim.

Pertama pada surat Maryam ayat 33 yang dimaksud memberikan ucapan keselamatan berhadapan dengan kelahiran Nabi Isa AS. Salah satu nabi pada keyakinan umat Islam.

وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

was-salâmu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amûtu wa yauma ub’atsu ḫayyâ

Artinya: “Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa as) pada hari kelahiranku, hari wafatku, serta hari aku dibangkitkan hidup (kembali)”.

Selain berlandas pada ayat tersebut, Husein Ja’far juga menjelaskan sebuah hadits yang digunakan menceritakan tentang tindakan Rasulullah SAW terhadap orang Yahudi. Diceritakan bahwa pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW memberikan penghormatan untuk rombongan Yahudi yang sedang menghadirkan jenazah sahabat Yahudinya kemudian menyeberangi masjid. Rasulullah yang mana pada waktu itu berada di tempat pada masjid, memberhentikan khotbahnya, kemudian mengundurkan diri dari serta berdiri di tempat depan masjid.

Ketika ditanya alasannya kenapa menghormati jenazah yang digunakan tidak ada seiman, lantas Nabi Muhammad SAW menjawab, meskipun kita berbeda keyakinan dengan mereka, namun kita tetap memperlihatkan harus saling menghormati lantaran kita sama-sama manusia.

“Artinya akibat keimanan kita berbeda dengan umat kristiani maka tak ada permasalahan dengan landasan keimanan kita bahwa Isa adalah nabi kita maka kita mengucapkan selamat berhadapan dengan kelahiran nabi Allah Isa kemudian artinya kita diperbolehkan mengucapkan selamat Natal,” ujar Habib Ja’far yang mana dikutipkan detikSulsel pada Hari Minggu (24/12/2023).

Sebagian besar ulama-ulama kontemporer di dalam Indonesia juga berpendapat yang tersebut sama, seperti Ustaz Quraish Shihab serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tersebut memperbolehkan umat Muslim untuk mengucapkan selamat Natal. Justru mengucapkan selamat Natal akan memproduksi hubungan antar sesama muslim semakin harmonis.

“Bagi saya untuk menjaga hubungan baik dengan umat agama lain perlu kiranya kita mengucapkan selamat Natal,” ucap Habib Ja’far.

Sementara itu, Ustaz Adi Hidayat miliki pandangan yang tersebut berbeda. Dalam kanal YouTube resminya, ia berpendapat bahwa mengucapkan Natal hukumnya adalah tidaklah boleh.

Pandangan ini didasarkan pada konsep Natal yang dimaksud dipahami sebagai bentuk ibadah pada praktiknya yang digunakan melibatkan ketuhanan lalu penyembahan. Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa umat Muslim yang mana memberikan ucapan Natal secara bukan dengan segera dianggap mengakui adanya Tuhan selain Allah SWT juga bertentangan dengan prinsip “la ilaha illallah” (tiada Tuhan selain Allah).

Dengan demikian, ia berpendapat bahwa mengucapkan Natal bagi umat Muslim bukan boleh. Dia juga menegaskan bahwa konsep toleransi umat Islam terkait dengan perayaan Natal merujuk pada surat Al-Kafirun ayat 6 yang dimaksud menyatakan, “Untukmu agamamu juga untukku agamaku.”

Jadi sebagai umat Muslim, kita tidaklah perlu mencampuri perayaan hari besar umat Kristiani. Bahkan, puncak tingkat toleransi menurutnya adalah dengan membiarkan umat Kristen Untuk melaksanakan ibadah dia dengan nyaman, tanpa adanya campur tangan di hal lisan, hati, serta perbuatan.

Dari penjelasan pada atas, dapat dipahami bahwa terdapat perbedaan pendapat pada kalangan ulama mengenai hukum mengucapkan selamat Natal. Beberapa mengharamkannya, sementara yang digunakan lain memperbolehkannya.

Umat Islam miliki keleluasaan untuk memilih pendapat yang tersebut sesuai dengan keyakinannya. Oleh dikarenakan itu, perbedaan semacam ini seharusnya tidak ada mengakibatkan konflik atau perpecahan.

Nah, itulah penjelasan mengenai hukum mengucapkan Natal bagi muslim. Semoga menjawab pertanyaan.

Sumber : CNBC

Written by admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Niat Puasa Ayyamul Bidh kemudian Jadwalnya, Mulai 26 Desember 2023

Niat Puasa Ayyamul Bidh kemudian Jadwalnya, Mulai 26 Desember 2023

MUI Haramkan Golput Saat Pemilu, Begini Isi Fatwa Lengkapnya

MUI Haramkan Golput Saat Pemilu, Begini Isi Fatwa Lengkapnya